PASURUAN | gatradaily.com – Kelangkaan dan antrian panjang pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) menjadi pemandangan yang nyaris merata di sejumlah SPBU di wilayah Kabupaten dan Kota Pasuruan.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat, terlebih saat distribusi BBM subsidi seharusnya diawasi secara ketat.

Antrian kendaraan, mulai dari truk hingga sepeda motor, terlihat mengular di sejumlah SPBU. Bahkan, di beberapa titik, antrian meluber hingga badan jalan dan memicu kepadatan arus lalu lintas. Tak hanya solar subsidi, pembelian BBM jenis Pertalite di sejumlah SPBU juga dikabarkan mulai dibatasi.

Di tengah situasi tersebut, perhatian publik justru tertuju pada SPBU bernomor lambung 54.671.04 di Jalan Raya Malang–Pasuruan, Desa Sengonagung, Kecamatan Purwosari.

Berdasarkan pantauan gatradaily.com pada Kamis (2/7/26) sekitar pukul 03.52 WIB, terlihat deretan sepeda motor yang diduga sudah dimodifikasi dengan kapasitas tangki lebih besar mengantri untuk membeli Pertalite.

Motor-motor yang mengantri didominasi jenis Honda MegaPro, Suzuki Thunder, Honda Tiger, Yamaha Vixion, serta beberapa motor besar lainnya. Seluruhnya tampak berjejer panjang sebelum aktivitas masyarakat umum dimulai.

“Motornya ada MegaPro, Thunder, Tiger, Vixion dan jenis motor besar lainnya. Hampir setiap hari seperti itu,” ujar Asrori, warga yang sebelumnya melaporkan kondisi tersebut kepada redaksi.

Menurut Asrori, kondisi tersebut dinilai tidak lazim. Sebab, pada siang hari SPBU tersebut justru relatif sepi dibandingkan SPBU lain di jalur nasional. Ia mengaku heran mengapa aktivitas pembelian dalam jumlah besar justru terjadi menjelang dini hari hingga pagi.

“Kalau siang justru jarang ramai. Yang sempat antri panjang hanya saat BBM hampir langka beberapa waktu ini. Yang membuat masyarakat bertanya-tanya, kenapa antrian seperti ini justru terjadi hampir setiap dini hari,” katanya.

Ia juga menyinggung pentingnya pengawasan terhadap kualitas pelayanan SPBU, termasuk akurasi takaran BBM yang diterima konsumen.

“Kalau pengawasannya lemah, masyarakat tentu khawatir. Jangan sampai takaran BBM juga menjadi pertanyaan. SPBU ini sejak dulu sudah sering menjadi sorotan warga,” imbuhnya.

Asrori mendesak Pertamina, aparat penegak hukum, maupun instansi pengawas lainnya agar tidak menutup mata terhadap dugaan aktivitas yang dinilai janggal tersebut. Menurutnya, cara pembelian berulang menggunakan kendaraan dengan tangki yang diduga telah dimodifikasi sudah seharusnya menjadi bahan evaluasi serius.

“Kalau praktek seperti ini dibiarkan, jangan salahkan masyarakat ketika muncul dugaan adanya permainan antara oknum pembeli dengan oknum tertentu. Tugas aparat bukan menunggu persoalan menjadi viral, tetapi memastikan distribusi BBM subsidi benar-benar tepat sasaran,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan, bahwa SPBU tersebut pernah beberapa kali menjadi perbincangan masyarakat terkait dugaan penyalahgunaan distribusi BBM subsidi. Karena itu, ia meminta pengawasan dilakukan secara terbuka dan menyeluruh.

“Kalau memang semuanya bersih, buktikan melalui pengawasan yang serius. Tetapi kalau dugaan masyarakat benar, jangan lagi ada pembiaran. BBM subsidi adalah hak masyarakat yang berhak, bukan ladang keuntungan segelintir orang. Negara tidak boleh kalah dengan mafia BBM, dan aparat jangan hanya tajam ketika berhadapan dengan rakyat kecil,” pungkasnya.(syn/mal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *