PASURUAN | gatradaily.com – Pengukuhan pengurus baru Yayasan Panca Wahana sekaligus pimpinan Universitas Nahdlatul Ulama Bangil (UNUBA) periode 2026–2031 tetap berlangsung di tengah polemik internal kampus dan tuntutan mahasiswa.
Acara yang semula direncanakan digelar di lingkungan kampus UNUBA Bangil itu akhirnya dipindahkan ke Hotel Inna Tretes, Prigen, Kabupaten Pasuruan, Senin (20/4/2026), setelah akses menuju kampus dilaporkan tertutup.
Ketua Yayasan Panca Wahana, DR KH Moh Najib Syaf, secara langsung mengukuhkan jajaran pimpinan baru universitas. Susunan tersebut antara lain Wonadi Indris sebagai penjabat rektor, didampingi tiga wakil rektor, yakni Siti Yumnah, Sulaiman, dan Khoirul Anam.
Najib menjelaskan, pemindahan lokasi dilakukan secara mendadak karena situasi kampus tidak memungkinkan untuk penyelenggaraan acara.
“Awalnya kegiatan akan dilaksanakan di kampus, namun akses ditutup sehingga tidak bisa digunakan. Kami kemudian berkoordinasi dan memindahkan ke hotel agar acara tetap berjalan,” ujar Najib dalam keterangan tertulis.
Ia memastikan kegiatan pengukuhan tetap berlangsung dengan dihadiri sekitar 150 undangan, yang terdiri dari dosen, pengurus Nahdlatul Ulama, Banser, serta tokoh masyarakat.
Di sisi lain, Najib juga membantah adanya tudingan bahwa yayasan yang dipimpinnya berupaya mengambil alih aset milik NU. Ia menegaskan bahwa Yayasan Panca Wahana merupakan badan hukum yang sah dan telah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
Menurut dia, status lahan kampus telah berbentuk wakaf dan memiliki dasar hukum yang jelas. Bahkan, pihak yayasan menyatakan siap membangun kampus baru apabila akses terhadap kampus lama tidak dapat digunakan.
“Kami siap mencari lahan baru dan membangun kampus demi keberlangsungan pendidikan,” kata dia.
Sementara itu, perwakilan mahasiswa yang tergabung dalam tim advokasi, Nabil, mengungkapkan bahwa mahasiswa mengalami kebingungan di tengah situasi yang terjadi.
Ia mengatakan, mahasiswa kesulitan mendapatkan informasi yang jelas terkait dinamika pengelolaan yayasan maupun kebijakan kampus.
“Kami sudah beberapa kali mengajukan permohonan audiensi, tetapi belum mendapat kejelasan. Akhirnya mahasiswa melakukan aksi,” ujar Nabil.
Selain itu, ia juga menyoroti kebijakan akademik yang dinilai mendadak, mulai dari peliburan hingga perubahan sistem perkuliahan menjadi daring dalam waktu singkat.
Mahasiswa, kata dia, berharap pihak kampus dapat lebih terbuka dan melibatkan mereka dalam pengambilan kebijakan, agar kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan kondusif.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak PCNU Bangil maupun pengelola kampus sebelumnya terkait pengukuhan tersebut. Mahasiswa pun berharap adanya kepastian hukum agar situasi kampus segera kembali normal.(syn)




