PASURUAN | gatradaily.com – Ratusan warga Desa Randupitu, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, mengikuti Kirab Budaya yang digelar sebagai bagian dari tradisi tahunan desa.
Warga dari tiga dusun, yakni Dusun Randupitu, Gesing, dan Babat, membaur mengikuti rangkaian kegiatan yang mengusung tema “Kirab Ancak: Babat Alas Randupitu, Raden Singowongso Mindha Pendopo.”
Kegiatan tersebut dimulai dari Balai Desa Randupitu dan berakhir di Lapangan Desa Randupitu. Sepanjang perjalanan, warga memadati ruas jalan desa untuk menyaksikan kemeriahan kirab.
Kirab tidak hanya menjadi sarana hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi momentum untuk melestarikan budaya sekaligus mengenang sejarah dan leluhur Desa Randupitu.
Suasana semakin meriah dengan adanya pembagian berbagai hadiah kepada peserta. Hadiah utama berupa sepeda listrik menjadi salah satu yang paling menarik perhatian.
Selain itu, panitia juga menyediakan puluhan hadiah elektronik rumah tangga, seperti televisi, kulkas, magic com, blender, dan kipas angin.
Kepala Desa Randupitu Mochammad Fuad mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk rasa syukur sekaligus upaya menjaga warisan sejarah desa.
“Kirab Ancak ‘Babat Alas Randupitu’ ini bukan sekadar hiburan atau bagi-bagi hadiah, melainkan wujud syukur kami kepada Allah SWT sekaligus upaya merawat sejarah leluhur kami, Raden Singowongso,” kata Fuad.
Menurut dia, tingginya antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa semangat gotong royong dan kerukunan antarwarga masih terjaga.
Warga dari tiga dusun, kata Fuad, dapat berkumpul dan mengikuti kegiatan bersama tanpa memandang perbedaan wilayah dusun.
Sementara itu, salah satu warga Randupitu, Achmad Zaqi, mengaku senang bisa ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, kirab budaya menjadi momen yang ditunggu masyarakat karena mampu mempertemukan warga sekaligus menghidupkan kembali tradisi dan sejarah desa.
“Acara seperti ini sangat bagus karena warga bisa berkumpul bersama. Selain meriah, kita juga diingatkan kembali dengan sejarah dan budaya Desa Randupitu,” ujar Zaqi.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus digelar secara rutin dengan melibatkan lebih banyak generasi muda.
“Harapannya anak-anak muda juga semakin mengenal sejarah desanya. Jangan sampai budaya dan cerita leluhur hanya menjadi cerita dari orang-orang tua,” katanya.
Fuad berharap tradisi tersebut tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga mampu memperkuat kebersamaan masyarakat.
“Semoga melalui kegiatan ini, desa kita semakin berkah, aman, sejahtera, dan generasi muda tidak lupa akan akar budayanya sendiri,” ujarnya.(syn)

