Bobrok! Revitalisasi SDN Besuk II Rp846 Juta Disorot, Diduga Dikerjakan Tak Sesuai Spesifikasi, Diborong Oknum Guru
PROBOLINGGO | gatradaily.com – Program Revitalisasi Satuan Pendidikan yang bersumber dari APBN dengan nilai Rp846.179.924 di SD Negeri Besuk II, Desa Besuk, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, mendapat sorotan.
Proyek yang ditujukan untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan lingkungan belajar tersebut diduga dikerjakan tidak sesuai spesifikasi teknis. Selain itu, pelaksanaan pekerjaan juga disebut-sebut dialihkan kepada pihak ketiga.
Dugaan tersebut disampaikan LSM PENJARA Indonesia Probolinggo berdasarkan hasil pemantauan di lokasi. Salah satu temuan yang disorot adalah kondisi dinding ruang kelas yang mengalami keretakan.
Menurut lembaga tersebut, bagian dinding yang retak parah diduga tidak dibongkar secara menyeluruh, melainkan hanya dikupas dan kemudian ditambal menggunakan semen.
Temuan lain berkaitan dengan pekerjaan pengecoran atap. Material cor disebut diduga menggunakan pasir lokal yang masih bercampur tanah.
“Cor-nya berongga, besi kelihatan. Pasirnya masih cokelat, banyak tanahnya. Ini bukan mutu K-250,” kata salah seorang anggota tim investigasi, Ashari, Kamis (8/10).
Selain persoalan mutu pekerjaan, LSM tersebut juga menyoroti aspek keselamatan kerja. Saat pemantauan berlangsung, disebut tidak terlihat pekerja yang menggunakan alat pelindung diri (APD) meski terdapat aktivitas pekerjaan di bagian atap sekolah.
Dugaan lain yang menjadi sorotan adalah mekanisme pelaksanaan proyek. Pekerjaan revitalisasi yang seharusnya dilaksanakan secara swakelola oleh Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) disebut justru dikerjakan dengan sistem borongan.
Seorang pekerja yang ditemui di lokasi mengaku pekerjaan tersebut diborongkan kepada seseorang yang disebut bernama Ari, yang diketahui merupakan guru di sekolah tersebut.
“Borongannya Pak Ari, guru di sini,” ujar pekerja tersebut.
LSM PENJARA Indonesia Probolinggo menilai dugaan tersebut perlu diverifikasi oleh instansi berwenang, terutama terkait kesesuaian pelaksanaan proyek dengan petunjuk teknis program revitalisasi satuan pendidikan.
Mereka juga menyoroti material plafon jenis kasibot yang digunakan. Material tersebut disebut tidak mencantumkan merek dan diduga memiliki kualitas yang tidak sesuai standar, dengan kondisi relatif tipis dan mudah pecah.
Atas sejumlah temuan tersebut, LSM PENJARA Indonesia Probolinggo meminta Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, aparat penegak hukum, serta Inspektorat Kabupaten Probolinggo melakukan pemeriksaan dan audit terhadap proyek tersebut.
“Kita sudah kirim surat aduan dan klarifikasi ke pihak sekolah dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo,” kata Samad.
Selain persoalan pekerjaan revitalisasi, Samad juga menyinggung kehadiran kepala SDN Besuk II. Ia mengklaim mendapat informasi dari sejumlah guru dan staf bahwa kepala sekolah disebut cukup sering tidak hadir di sekolah dengan alasan sakit.
“Dari pengakuan guru dan staf sekolah, kepala sekolah sangat jarang masuk dengan alasan sakit,” ujar Samad.
Menurut dia, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo agar tidak berdampak terhadap proses belajar mengajar maupun pelaksanaan tugas kepala sekolah.
Samad meminta pihak terkait melakukan evaluasi dan memberikan penjelasan mengenai kondisi tersebut.
Hingga berita ini ditulis, belum terdapat keterangan dari pihak SD Negeri Besuk II maupun Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo mengenai dugaan ketidaksesuaian pekerjaan, mekanisme pelaksanaan proyek, serta persoalan kehadiran kepala sekolah.(ze)

























