SMSI-RRI Teken MoU Perangi Hoaks, Siapkan Pelatihan hingga Uji Kompetensi Wartawan

JAKARTA | gatradaily.com – Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) menggandeng Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) untuk memerangi penyebaran hoaks di ruang digital. Kerja sama ini juga menyasar peningkatan kualitas dan kompetensi wartawan di seluruh Indonesia.

Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) di Ruang Rapat Direktur Utama RRI, Jakarta, Senin (26/10/2026).

Ketua Umum SMSI Firdaus mengatakan kerja sama ini lahir dari kesamaan visi SMSI dan RRI dalam menghadapi maraknya informasi palsu yang beredar di tengah masyarakat.

“Kolaborasi ini merupakan manifestasi dari gagasan Dirut RRI dan Ketum SMSI untuk melawan hoaks,” kata Firdaus.

Firdaus menjelaskan, kerja sama tersebut tidak hanya berfokus pada pemberantasan hoaks. SMSI dan RRI juga menyiapkan sejumlah program, mulai dari Training of Trainers (ToT), Uji Kompetensi Wartawan (UKW), hingga penyebarluasan informasi pembangunan.

Menurutnya, jaringan media siber yang dimiliki SMSI menjadi modal penting untuk memperkuat penyebaran informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Media startup atau media rintisan yang tergabung dalam SMSI sebanyak 3.181 anggota yang tersebar di seluruh Indonesia mendukung program penyebaran informasi pembangunan,” ujarnya.

Firdaus juga menyatakan dukungan terhadap gagasan integrasi RRI dan TVRI menjadi platform media publik yang memiliki jangkauan lebih luas.

“SMSI juga mendukung pengintegrasian RRI dan TVRI menjadi platform global sebagai kekuatan pemerintah,” katanya.

Dia menegaskan, perang melawan hoaks tidak cukup dilakukan dengan membantah kabar bohong yang telanjur beredar. Dibutuhkan wartawan yang kompeten serta media yang mampu menjalankan proses verifikasi secara profesional.

Karena itu, peningkatan kapasitas insan pers menjadi salah satu fokus utama dalam kerja sama SMSI dan RRI.

Direktur Utama LPP RRI Hendrasmo menyambut positif kerja sama tersebut. Dia menyebut kolaborasi dengan SMSI menjadi bagian dari langkah besar menghadapi tantangan informasi di era digital.

“Hari ini kita kedatangan tokoh pers dan kita hadir dalam proyek yang lebih besar, yaitu bersama-sama menanggulangi hoaks,” ujar Hendrasmo.

Menurut Hendrasmo, upaya menciptakan ekosistem informasi yang sehat tidak bisa hanya mengandalkan perusahaan media besar. Media kecil hingga media rintisan juga memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.

Karena itu, RRI bersama SMSI akan mendorong peningkatan kompetensi wartawan sekaligus memperkuat kolaborasi antarmedia.

Harapannya, media mampu menghadirkan konten berkualitas di tengah derasnya arus informasi yang beredar melalui berbagai platform digital.

Ketua Dewan Pers Prof. Dr. Komaruddin Hidayat yang turut hadir dalam acara tersebut menyoroti perubahan besar dalam cara masyarakat memperoleh informasi.

Komaruddin mengatakan, pada masa lalu informasi yang disebarkan media massa umumnya melalui proses seleksi dan verifikasi. Setiap media juga memiliki identitas serta penanggung jawab yang jelas.

Namun, perkembangan media sosial mengubah situasi tersebut. Kini siapa pun bisa membuat dan menyebarkan informasi kepada publik dalam hitungan detik.

“Dulu informasi dikuasai oleh media massa, terakreditasi, terseleksi dan terverifikasi. Sekarang media sosial memenuhi ruang publik,” kata Komaruddin.

Dia mengingatkan, derasnya arus informasi di media sosial tidak selalu membuat masyarakat semakin memahami suatu persoalan.

Sebaliknya, masyarakat justru berhadapan dengan campuran informasi benar, kabar yang belum terverifikasi, konten sensasional, hingga praktik penipuan digital.

Komaruddin secara khusus menyinggung peran algoritma media sosial yang dinilai semakin memengaruhi cara masyarakat menerima informasi.

“Algoritma itu sebelumnya menjajah tanpa paksaan, mengendalikan tanpa paksaan,” ujarnya.

Menurutnya, aktivitas pengguna di dunia digital meninggalkan jejak data. Data tersebut kemudian digunakan platform untuk menyajikan konten berdasarkan kebiasaan, kesukaan, hingga pola pencarian pengguna.

Akibatnya, seseorang berpotensi terus-menerus menerima informasi yang sesuai dengan pandangannya, sementara informasi dengan sudut pandang berbeda semakin jarang muncul.

Kondisi tersebut, kata Komaruddin, menjadi tantangan bagi masyarakat untuk tetap berpikir kritis dan tidak mudah terpengaruh informasi yang memancing emosi.

“Yang serius sekali adalah kita tidak dilatih untuk mengecek informasi,” katanya.

Dia juga mengingatkan bahwa media sosial memiliki kekuatan besar dalam membentuk opini publik, bahkan menggerakkan massa dalam waktu singkat.

Karena itu, kemampuan masyarakat dalam memeriksa kebenaran informasi perlu terus diperkuat.

Komaruddin menilai kerja sama SMSI dan RRI merupakan langkah penting dalam membangun ekosistem informasi yang lebih sehat.

Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan MoU, melainkan diwujudkan melalui program nyata, terutama peningkatan kompetensi wartawan, penguatan verifikasi informasi, dan penyajian berita yang akurat.

Dengan jaringan media siber SMSI yang tersebar di berbagai daerah serta jangkauan penyiaran RRI, kerja sama ini diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap informasi yang kredibel.

Penandatanganan MoU tersebut turut dihadiri Wakil Ketua Dewan Pers Totok Suryanto, Anggota Dewan Pengawas LPP RRI Enderiman Butar Butar, Direktur PP LPP RRI Mistam, Dewan Penasihat SMSI Pusat Prof. Dr. Taufiqurochman, Dewan Pertimbangan SMSI Pusat Theodorus Dar Edi Yoga, serta Wakil Ketua Umum SMSI Bidang Usaha Media Siber dan Pengembangan Teknologi Digital Ilona Juwita.

Hadir pula Kepala Stasiun RRI Jakarta Ir. M. Bugi Hidayat, Kepala Pusat Pengembangan Kompetensi RRI Ade Irosadi, dan Kepala Pusat Pemberitaan RRI Yuliana Marta Doky.(syn)*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup