Pemkab Sidoarjo Bakal Bangun Gapura Jenggala di Perbatasan Surabaya, Ini Konsepnya

Bupati Sidoarjo Subandi meninjau lokasi rencana pembangunan Gapura Jenggala di perbatasan Sidoarjo–Surabaya. (Foto: Istimewa)

SIDOARJO | gatradaily.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo berencana menyulap kawasan perbatasan Sidoarjo-Surabaya menjadi lebih tertata dan estetik. Salah satu proyek yang disiapkan yakni pembangunan Gapura Jenggala berukuran besar sebagai ikon baru sekaligus penanda batas kedua wilayah.

Gapura tersebut rencananya dibangun di kawasan perbatasan Desa Wadungasri, Kecamatan Waru, Sidoarjo, dengan Kelurahan Menanggal, Kecamatan Gayungan, Surabaya.

Bupati Sidoarjo Subandi mengatakan, penataan kawasan perbatasan tidak hanya bertujuan mempercantik wajah kota. Pembangunan Gapura Jenggala juga diharapkan mampu menghidupkan kembali nilai sejarah dan kearifan lokal Kabupaten Sidoarjo.

“Mudah-mudahan kawasan perbatasan ini bisa ditata ulang sesuai kearifan lokal. Kita ingin mengembalikan nilai-nilai lokal di situ, supaya batas wilayah Surabaya dan Sidoarjo terlihat jelas, sekaligus mengangkat kembali sejarah Sidoarjo,” kata Subandi saat meninjau kawasan perbatasan.

Dalam peninjauan tersebut, Subandi didampingi Wakil Ketua III DPRD Sidoarjo Warih Andono, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo Arif Mulyono, serta Kepala BNN Kabupaten Sidoarjo Kombes Pol Gatot Soegeng Soesanto.

Subandi menjelaskan, konsep pembangunan Gapura Jenggala akan dibahas lebih lanjut bersama Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga, dan Sumber Daya Air (DPUBMSDA) Sidoarjo.

Pembahasan tersebut diperlukan untuk mematangkan desain bangunan agar tidak hanya megah secara fisik, tetapi juga memiliki karakter yang mencerminkan sejarah daerah.

Rencananya, gapura tersebut memiliki lebar minimal 2,5 meter dengan bentang sekitar 7 hingga 8 meter. Namun, ukuran pasti bangunan masih akan disesuaikan dengan kondisi serta daya dukung kawasan.

“Desainnya akan dimatangkan terlebih dahulu agar benar-benar mencerminkan identitas Sidoarjo. Kita ingin setiap daerah menampilkan karakteristik sejarahnya masing-masing,” ujar Subandi.

Selain membangun gapura, Pemkab Sidoarjo juga bakal mempercantik taman dan membenahi sejumlah fasilitas pendukung di sekitar perbatasan.

Penataan ini diharapkan membuat kawasan pintu masuk Sidoarjo terlihat lebih rapi, nyaman, dan memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat maupun pengguna jalan.

Tak hanya mempercantik kawasan, Pemkab Sidoarjo turut menyoroti persoalan parkir liar dan keberadaan pedagang kaki lima (PKL) di sekitar lokasi.

Subandi meminta instansi terkait melakukan pendataan PKL sekaligus menyiapkan langkah penataan agar aktivitas masyarakat tetap berjalan tanpa mengganggu ketertiban kawasan.

Sementara itu, Dinas Perhubungan (Dishub) Sidoarjo diminta mengkaji sejumlah titik yang berpotensi menimbulkan kemacetan, terutama akibat kendaraan yang parkir sembarangan di bahu jalan.

Hasil kajian tersebut nantinya menjadi dasar penentuan lokasi pemasangan rambu larangan parkir serta langkah pengawasan lalu lintas.

“Kami meminta Dishub rutin melakukan patroli agar pengendara tidak memarkir kendaraannya sembarangan. Penataan estetika kawasan harus berjalan beriringan dengan kelancaran arus lalu lintas,” tegas Subandi.

Menurutnya, penataan kawasan perbatasan harus dilakukan secara menyeluruh. Tidak cukup hanya menghadirkan bangunan ikonik, tetapi juga memastikan lingkungan sekitarnya tertib dan nyaman.

Pemkab Sidoarjo memastikan program penataan kawasan perbatasan akan dilakukan secara bertahap.

Setelah kawasan perbatasan Sidoarjo-Surabaya ditata, pemerintah daerah berencana melanjutkan program serupa di sejumlah titik lainnya.

Dua kawasan yang masuk dalam rencana berikutnya yakni perbatasan Sidoarjo-Pasuruan dan Sidoarjo-Mojokerto.

Melalui pembangunan Gapura Jenggala dan pembenahan lingkungan tersebut, Pemkab Sidoarjo berharap kawasan perbatasan tidak lagi sekadar menjadi jalur keluar masuk kendaraan.

Lebih dari itu, kawasan tersebut diharapkan menjadi wajah baru Sidoarjo yang mencerminkan identitas daerah sekaligus memperkenalkan kekayaan sejarah dan budaya lokal kepada masyarakat luas.(syn)*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup