PASURUAN | gatradaily.com – Upaya pengelolaan sampah berbasis teknologi terus dikembangkan di Desa Randupitu, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Melalui Program Pengabdian Masyarakat, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menghibahkan satu unit mesin pirolisis kepada TPS 3R Pempes, Rabu (5/8/2026).
Penyerahan mesin dilakukan bersamaan dengan pengenalan teknologi pirolisis kepada pengelola TPS 3R. Kegiatan tersebut dihadiri dosen pembimbing ITS Prof. Suprapto, tenaga kependidikan ITS Ervan dan Selamet, serta tujuh mahasiswa Program Studi Kimia ITS.
Mesin pirolisis merupakan teknologi yang mampu mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif berbentuk cair melalui proses pemanasan tanpa pembakaran langsung. Dalam sekali proses selama sekitar 60 menit, alat tersebut dapat mengolah hingga 5 kilogram sampah plastik dan menghasilkan sekitar 1 liter bahan bakar alternatif.
Prof. Suprapto mengatakan, hibah mesin pirolisis merupakan bagian dari komitmen ITS dalam menghadirkan teknologi tepat guna yang dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat.
“Harapan kami, teknologi ini mampu membantu mengurangi sampah plastik dan memberikan nilai tambah melalui pemanfaatan hasil olahannya sebagai energi alternatif,” ujar Prof. Suprapto.
Menurut dia, pemanfaatan teknologi pirolisis tidak hanya berkontribusi terhadap pengurangan volume sampah plastik, tetapi juga membuka peluang terciptanya produk yang memiliki nilai ekonomi.
Kehadiran mesin pirolisis melengkapi inovasi pengelolaan sampah yang selama ini dikembangkan di Desa Randupitu. Sebelumnya, TPS 3R Pempes telah memproduksi Refuse Derived Fuel (RDF), yakni bahan bakar padat berbentuk briket yang berasal dari sampah plastik dan dimanfaatkan sebagai energi alternatif.
Dengan adanya dua teknologi tersebut, pengelolaan sampah plastik di Randupitu diharapkan menjadi lebih optimal karena sampah dapat diolah menjadi berbagai produk yang bernilai guna.
Kepala Desa Randupitu, Muhammad Fuad menyambut positif hibah dari ITS. Ia berharap kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan KSM Pempes Community dapat terus berlanjut agar inovasi pengelolaan sampah semakin berkembang.
“Kolaborasi ini mempertegas bahwa inovasi dalam pengelolaan sampah tidak hanya lahir di laboratorium, tetapi juga dapat tumbuh dan berkembang di tingkat desa,” katanya.
Ia menambahkan, pendampingan dari ITS menjadi aspek penting agar mesin pirolisis dapat dioperasikan secara optimal, aman, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Dengan dukungan teknologi dan semangat gotong royong, kami akan terus membuktikan diri sebagai salah satu desa yang konsisten menghadirkan solusi kreatif dalam menjaga lingkungan sekaligus menciptakan nilai tambah dari sampah,” pungkasnya.(syn)





