PASURUAN | gatradaily.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Pasuruan kembali menuai sorotan setelah muncul keluhan dari penerima manfaat terkait kualitas makanan yang dibagikan.

Keluhan itu disampaikan seorang siswa penerima manfaat di MI Miftahul Anwar, Kelurahan Kalianyar, Kecamatan Bangil, kepada Aliansi Jurnalis Pasuruan Bersatu (AJPB), Kamis (2/4/2026). Siswa tersebut mengaku sup yang diterimanya dalam kondisi basi.

Menurut keterangan narasumber yang meminta identitasnya dirahasiakan, persoalan serupa disebut bukan kali pertama terjadi. Beberapa menu yang sebelumnya juga diduga dalam kondisi tidak layak konsumsi antara lain tahu bali, tahu mayones, telur, serta sup yang terasa kecut.

Menindaklanjuti laporan tersebut, tim AJPB mendatangi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Kecamatan Bangil. Saat berada di dapur SPPG Kali Anyar, awak media hanya menemui seorang petugas bernama Andre.

“Mas Fanani selaku Ketua SPPG-nya pulang,” ujar Andre saat ditemui di lokasi.

Ketua AJPB Henry Sulfianto kemudian menghubungi Fanani melalui aplikasi WhatsApp untuk meminta klarifikasi. Dalam tanggapannya, Fanani menyoroti pola konsumsi makanan oleh penerima manfaat.

“Sama bapak untuk siswa dan guru. Pertanyaannya sekarang, untuk yang siswa dimakan di tempat atau dibawa pulang? Kami menganjurkan makan di tempat. Karena namanya makanan ada batas waktu makannya,” tulis Fanani.

Di sisi lain, Koordinator Wilayah MBG, Aisyah, mengakui adanya temuan makanan yang mengalami perubahan kualitas.

“Iya pak, dari 3B ada yang kecut, ada yang tidak. Untuk yang 3B terkonfirmasi memang ada yang basi dan kecut,” kata Aisyah.

Henry mengatakan, hasil temuan tersebut telah disampaikan kepada pemerintah daerah. Menurut dia, Sekretaris Daerah Kabupaten Pasuruan disebut akan segera melakukan pengecekan lapangan bersama koordinator wilayah MBG.

“Pak Sekda setelah saya konfirmasi akan segera melakukan pengecekan dan kroscek ke lapangan bersama Koordinator Wilayah Pasuruan agar segera ditindaklanjuti,” ujar Henry.

Namun, Fanani selaku Ketua SPPG Taruna Jaya membantah adanya persoalan dalam distribusi makanan MBG.

“Tidak ada permasalahan seperti yang ditemukan. Semuanya baik-baik saja, termasuk yang ada di siswa MI Miftahul Anwar,” katanya.

AJPB menilai pernyataan tersebut berbeda dengan temuan di lapangan. Selain itu, Henry juga mengaku kesulitan berkomunikasi langsung dengan pihak koordinator wilayah.

“Komunikasi dengan koordinator wilayah juga sulit, hanya lewat WhatsApp. Kami ingin konfirmasi langsung juga belum bisa,” ujarnya.

Henry menegaskan, pelaporan ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi agar tidak terjadi dampak kesehatan yang lebih luas pada penerima manfaat program.

“Intinya kami tidak ingin terjadi keracunan massal, baik pada anak sekolah maupun ibu hamil dan menyusui yang menerima program ini,” katanya.(syn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *