PROBOLINGGO | gatradaily.com – Banjir yang melanda Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, pada Sabtu (17/1/2025) petang menelan korban jiwa.

Seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun ditemukan meninggal dunia setelah diduga terseret arus banjir di sekitar jembatan gantung Dusun Beji, Desa Banjarsari, Kecamatan Sumberasih.

Korban diketahui merupakan warga Desa Bayeman, Blok Tambak, dan anak dari seorang guru sekolah dasar.

Menurut keterangan Soleh, warga setempat, korban kerap berada di sekitar jembatan gantung tersebut karena memiliki kerabat di Dusun Beji.

“Korban memang sering berada di sekitar jembatan itu. Informasinya karena ada keluarganya di Dusun Beji,” ujar Soleh.

Ayah korban, Ty (46), membenarkan hal tersebut. Ia mengatakan, pada malam kejadian dirinya mencari sang anak yang belum pulang ke rumah. Kecurigaan mengarah ke lokasi jembatan gantung setelah ditemukan sandal milik korban di sekitar lokasi.

“Saya bersama warga turun ke sungai di bawah jembatan. Setelah membersihkan rumpun bambu, saya menemukan anak saya tersangkut dan sudah meninggal dunia,” kata Ty dengan suara bergetar.

Terkait respons pemerintah daerah, Ty mengaku belum ada pejabat dari tingkat kecamatan maupun Pemerintah Kabupaten Probolinggo yang datang ke rumah duka.

“Yang datang hanya kepala desa saat tahlilan. Pejabat kecamatan atau kabupaten tidak ada,” ujar Ty saat ditemui gatradaily.com dirumahnya. Rabu (21/1/2026).

Selain menewaskan seorang remaja, banjir juga menyebabkan kerusakan infrastruktur di wilayah barat Probolinggo, meliputi Kecamatan Sumberasih dan Tongas. Sejumlah jembatan, jalan desa, tanggul sungai, serta lahan pertanian, perkebunan, dan permukiman warga dilaporkan rusak.

Sejumlah aktivis lingkungan menilai banjir tersebut tidak semata-mata disebabkan faktor curah hujan, melainkan juga akibat kerusakan lingkungan yang masif.

Zainal Arifin, pegiat Aliansi Masyarakat Ranger Hutan SAE PATENANG, menyebut aktivitas pertambangan galian C dan pembalakan hutan di kawasan hulu, termasuk di kaki Gunung Bromo, memperparah kondisi banjir.

“Alih fungsi lahan dan hilangnya daya serap tanah akibat penebangan hutan membuat air hujan langsung mengalir ke permukiman warga. Ditambah degradasi sungai akibat aktivitas tambang, banjir menjadi semakin parah,” ujar Zainal.(syn/ze)