Advokat Jawa Timur, Moh. Taufik, mengecam dugaan OTT terhadap wartawan di Mojokerto dan menyerukan aksi di Mapolda Jatim sebagai bentuk penolakan terhadap kriminalisasi pers.
<p style="text-align: justify;"><em><strong>PASURUAN</strong></em> | <span style="color: #ff0000;"><em><strong>gatradaily.com</strong></em></span> — Dugaan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap seorang wartawan di Mojokerto mendapatkan kecaman keras dari kalangan advokat di Jawa Timur.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu advokat terkemuka, Bung Taufik, menilai peristiwa tersebut penuh kejanggalan dan berpotensi mengancam kebebasan pers di Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jika terbukti ada skenario yang menjebak jurnalis, ini bukan sekadar persoalan individu, melainkan sebuah tamparan bagi kebebasan pers dan bisa menjadi preseden buruk bagi dunia jurnalistik,&#8221; ujar Bung Taufik dalam keterangannya, Senin (15/3/2026).</p>
<p style="text-align: justify;">Taufik menambahkan bahwa konstruksi hukum yang digunakan dalam kasus tersebut patut dipertanyakan. Ia menyoroti dugaan pemerasan yang dilontarkan oleh pihak berwenang, mengingat permintaan penghapusan berita dengan kompensasi tertentu tidak bisa serta-merta dikategorikan sebagai pemerasan tanpa adanya ancaman yang jelas.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Di mana unsur pengancamannya? Ini harus diuji secara objektif dan transparan. Jangan sampai delik pemerasan dipaksakan hanya untuk membungkam kerja jurnalistik,&#8221; lanjutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Bung Taufik, pola operasi serupa bukan kali pertama terjadi. Ia mengingatkan publik pada kasus OTT sebelumnya yang melibatkan dua mahasiswa yang melaporkan Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kasus itu, pertemuan antara pelapor dan terlapor sudah terjadi sebelum OTT dilaksanakan, yang menambah tanda tanya terkait tujuan di balik penangkapan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Operasi seperti ini sering diawali dengan kesepakatan pertemuan. Oleh karena itu, aparat penegak hukum harus berhati-hati. Jangan sampai penegakan hukum justru terkesan sebagai jebakan yang merugikan pihak tertentu,&#8221; katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai respons terhadap dugaan kriminalisasi terhadap wartawan, Bung Taufik memimpin pembentukan Aliansi Masyarakat Jawa Timur Peduli Jurnalis.</p>
<p style="text-align: justify;">Aliansi ini berencana menggelar aksi solidaritas di depan Mapolda Jawa Timur, untuk mendesak Kapolda melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penanganan kasus tersebut dan mempertimbangkan pembebasan wartawan yang ditangkap.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Pers adalah pilar demokrasi. Tanpa jurnalis, masyarakat akan kehilangan akses informasi yang benar. Kami menentang keras segala bentuk kriminalisasi terhadap wartawan,&#8221; tegasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bung Taufik juga mengingatkan pentingnya pengawalan publik terhadap kasus ini. Jika dibiarkan tanpa perhatian, ia khawatir praktik serupa akan terulang kembali, yang akhirnya menciptakan ketakutan di kalangan jurnalis dalam menjalankan tugas mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jika jurnalis terus ditekan seperti ini, siapa lagi yang akan berani mengungkap fakta kepada publik?&#8221; tandasnya.(syn/red)</p>

PASURUAN | gatradaily.com – Momentum bulan suci Ramadan dimanfaatkan Tim Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)…
PASURUAN | gatradaily.com – DPRD Kabupaten Pasuruan menyampaikan 1.838 usulan kegiatan dalam Pokok-Pokok Pikiran (Pokir)…
PASURUAN | gatradaily.com – Mahkamah Agung mengabulkan permohonan kasasi yang diajukan Moch. Romli dalam perkara…
PASURUAN | gatradaily.com – Satuan Reserse Narkoba Polres Pasuruan menangkap tiga orang terduga pengedar narkotika…
PASURUAN | gatradaily.com – Karang Taruna Sakerra Muda Desa Randupitu, Kabupaten Pasuruan, kembali menggelar kegiatan…
PASURUAN | gatradaily.com – Suasana haru menyelimuti sebuah rumah sederhana di Desa Pleret, Kecamatan Pohjentrek,…